Ritual Sebelum dan Sesudah Perayaan Hari Raya Suci Nyepi, Berikut Pantangannya
Kabarbanua.com, Kotabaru- Hari Raya Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1943 jatuh pada hari ini Minggu, (14/3/21).
Sebelum merayakan Hari Raya Nyepi, umat Hindu dari Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kecamatan Pulaulaut Timur melaksanakan beberapa ritual lain yang harus dilakukan baik sebelum maupun sesudah Nyepi.

“Di dalam Umat Hindu dilaksanakan Catur Brata Penyepian atau empat pengendalian diri ( 4 pantangan ) dalam melaksanakan Nyepi:
-Amati Geni atau tidak menyalakan api
-Amati Karya atau tidak boleh bekerja
-Amati Lelungan atau tidak boleh bepergian
-Amati Lelanguan atau tidak boleh hiburan,” Ungkap Ketut Sudike ketua PHDI Pulaulaut Timur
Sedangkan Hari Raya Nyepi sendiri dimana dalam pelaksanaan kegiatan Nyepi dilakukan selama 24 jam, biasanya dimulai pukul 06.00 pagi hingga 06.00 pagi keesokan harinya.

” Dimana kami juga melaksanakan prosesi upacara Melasti di Pura Loka Natha di Desa Betung Pulaulaut Timur, Kabupaten Kotabaru, upacara Melasti dilaksanakan dalam rangkaian perayaan Nyepi Tahun Baru Saka 1943 yang jatuh pada tanggal 14 maret 2021,” ungkapnya.
Sebelumnya Kadek Widi Hartawan anggota PHDI dari Desa Bekambit Asri juga menjelaskan, bahwa sebelum hari Raya Nyepi Umat Hindu akan terlebih dahulu melaksanakan berbagai Upacara.
Upacara tersebut bertujuan untuk menyucikan diri sebelum melaksanakan Nyepi yang berarti melebur segala macam kotoran pikiran, perkataan, dan perbuatan.

” Seperti upacara Melasti, umat Hindu yang mengikuti acara tersebut akan mendapatkan air suci yang disebut Angemet Tirta Amerta,” ucapnya. Lanjut Kadek, dalam kepercayaan Hindu, sumber air seperti danau dan laut merupakan air kehidupan.
Kegiatan selanjutnya adalah Tawur Kesanga atau Mecaru, yang dilaksanakan H-1 sebelum perayaan Nyepi.
Kegiatan ini identik dengan pawai festival ogoh-ogoh yang dilaksanakan di daerah Kuta Bali. Ogoh-ogoh sendiri adalah boneka raksasa terbuat dari bubur kertas dan rangka bambu.
” Ogoh-ogoh merupakan representatif dari sifat buruk atau jahat manusia, maka bentuk ogoh-ogoh rata-rata menyeramkan, sambungnya.
” Pada akhir acara pawai, ogoh-ogoh akan dibakar sebagai lambang pembersihan sifat jahat manusia yang dilenyapkan dalam ritual Nyepi, namun dimasa pandemi Covid-19 kegiatan ini ditiadakan,” ujar Kadek diakhir keterangannya.
Penulis:DP
Editor:Rini
![]()



























