Saat Kemarau, Program Andaru Jadi Penopang Ketersediaan Air Bersih Masyarakat, PT BIB Perkuat Ketahanan Air Desa Ring 1
Kabarbanua com, Batulicin – Program Air Bersih Andaru yang merupakan inisiatif program Corporate Social Responsibility (CSR) PT Borneo Indobara (BIB) yang berhasil mengubah air kolam bekas tambang (void) menjadi air minum premium layak konsumsi sukses memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat sekitar, khususnya untuk mendukung ketahanan air saat musim kemarau.
Empowerment & Development Department Head PT BIB Silvyna Aditia mengatakan, sebelum adanya Andaru, pada musim kemarau sebagian masyarakat harus membeli air dari luar dengan biaya sekitar Rp75.000 per 1.200 liter, sehingga menjadi tambahan beban bagi rumah tangga.

“Saat ini desa yang sudah mendapatkan aliran dari sumber Andaru tidak lagi mengalami kesulitan air seperti tahun-tahun sebelumnya, terutama saat musim kemarau,” ujarnya.
Sylvina mengungkapkan, pemanfaatan sumber air Andaru direncanakan dapat dikembangkan untuk melayani hingga 8 desa secara bertahap, disesuaikan dengan kesiapan jaringan distribusi, infrastruktur, serta kelembagaan pengelola.
“Untuk tahap yang sudah berjalan, pelayanan air dari Andaru telah dimanfaatkan masyarakat di Mekar Jaya dan Banjarsari,” ucapnya.

PT BIB tidak hanya membangun sumber dan jaringan air, lanjut Sylvina, tetapi juga mendorong adanya kelembagaan pengelola di tingkat desa, sehingga operasional, pemeliharaan, pelayanan pelanggan, dan pengembangan Sambungan Rumah dapat dilakukan secara mandiri.
“Selain Andaru, PT BIB telah membantu pembangunan sistem penyediaan air di sejumlah desa lain menggunakan sumber yang menyesuaikan kondisi lokal, baik dari sumur bor maupun embung eksisting,” bebernya
Desa yang telah memiliki sistem air antara lain Jombang, Wonorejo, Sidorejo, Sumber Arum, Bunati, Makmur, dan Sumber Baru, dengan sistem distribusi melalui menara air/WTP dan jaringan Sambungan Rumah (SR) menuju masyarakat yang telah dilakukan oleh PT BIB.
Pada musim kemarau seperti saat ini, tambah Sylvinas, desa-desa yang sistem airnya sudah berjalan tersebut relatif lebih siap memenuhi kebutuhan air masyarakat dan tidak mengalami kesulitan seperti sebelum fasilitas tersedia.
Pendekatan PT BIB dalam program air tidak menggunakan satu teknologi untuk seluruh desa. Karakteristik sumber air menentukan jenis treatment yang diperlukan sebelum air didistribusikan.
“Saat ini masih terdapat beberapa program yang sedang dalam proses pengembangan, antara lain di Sebamban Lama, Hatiif, dan Mangkalapi, yang direncanakan menggunakan air sungai sebagai sumber air baku.”
“Karena menggunakan air sungai, sistem tersebut memerlukan treatment yang lebih lengkap seperti pengendapan, filtrasi, dan pengolahan melalui WTP, sehingga air yang masuk ke jaringan masyarakat memenuhi baku mutu sesuai peruntukannya,” terangnya.
PT BIB tidak sekadar membangun fasilitas air, tetapi membangun sistem pelayanan air desa dari sumber, treatment, distribusi, Sambungan Rumah sampai penguatan pengelolanya.
Memasuki musim kemarau, lanjut Sylvina, desa-desa yang telah memiliki sistem air hasil kolaborasi BIB dan masyarakat kini lebih tangguh menghadapi keterbatasan sumber air.
“Pemanfaatan kolam bekas tambang Andaru menjadi contoh bagaimana area pasca tambang dapat dikembangkan menjadi sumber manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” tegas Sylvina.
Berbagai model air bersih PT BIB disesuaikan dengan karakter setiap desa, seperti void, embung, sumur bor hingga air sungai, dengan tujuan akhir yang sama yaitu akses air yang berkelanjutan dan dikelola masyarakat.
Rel
Editor:Hidayat
![]()



























