Lebaran Tak Serentak, MUI Tanbu Sikapi dengan Bijak
Kabarbanua.com, Batulicin – Umat muslim di seluruh dunia tengah bergembira memperingati hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, tak terkecuali di Indonesia.
Namun, sangat jarang momentum lebaran tersebut dirayakan serentak oleh kedua organisasi Islam terbesar di Indonesia, yakni Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah, termasuk di Kabupaten Tanah Bumbu.
Pasalnya, dua organisasi Islam di Indonesia ini mempunyai cara menentukan berakhirnya bulan Ramadhan dan masuknya 1 Syawal dengan cara berbeda.

Tahun ini, Muhammadiyah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Jumat, 20 Maret 2026 atau satu hari lebih awal dari pemerintah dan NU.
Hal itu, karena Muhammadiyah menentukan 1 Syawal berdasarkan metode hisab hakiki wujudul hilal dan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang memastikan hilal sudah wujud di atas ufuk saat matahari terbenam, berbeda dengan pemerintah yang umumnya mengacu pada kriteria rukyatul.
Ada tiga poin yang menjadi landasan kuat Muhammadiyah dalam menentukan 1 Syawal tersebut;
1. Metode Hisab Hakiki: Muhammadiyah menggunakan perhitungan astronomis (hisab) yang pasti, bukan pengamatan langsung (rukyah).
2. Wujudul Hilal: Kriteria utama adalah ijtimak (konjungsi) terjadi sebelum matahari terbenam, dan bulan terbenam setelah matahari terbenam, tidak mempedulikan tinggi minimal hilal.
3. Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT): Sistem ini menganggap dunia sebagai satu kesatuan matlak, sehingga 1 Syawal berlaku sama di seluruh dunia, yang merupakan hasil tajdid (pembaruan).
Adapun pemerintah dan NU, melalui Kementerian Agama dan Nahdlatul Ulama (NU) menetapkan 1 Syawal 1447 H (Idul Fitri 2026) jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Keputusan ini diambil berdasarkan hasil sidang isbat dan rukyatul hilal yang menunjukkan posisi hilal belum memenuhi kriteria MABIMS (di bawah 3 derajat) pada 19 Maret 2026, sehingga Ramadhan digenapkan 30 hari (istikmal).
Pemerintah dan NU, juga memiliki beberapa landasan dalam penentuan 1 syawal 1447 Hijriah, atau Hari Raya Idul Fitri 2026 kali ini, yakni;
1. Keputusan Resmi: Pemerintah melalui Kementerian Agama RI secara resmi menetapkan 1 Syawal 1447 H pada Sabtu, 21 Maret 2026, yang diumumkan dalam konferensi pers setelah sidang isbat pada Kamis, 19 Maret 2026.
2. Posisi NU: Nahdlatul Ulama (NU) juga mengindikasikan 1 Syawal jatuh pada 21 Maret 2026, karena hasil pemodelan menunjukkan tinggi hilal masih di bawah 3 derajat (berkisar 0.91 derajat hingga 3.13 derajat).
3. Metode yang Digunakan: Pemerintah dan NU menggunakan metode kombinasi antara hisab (perhitungan astronomi) dan rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit secara fisik) untuk menetapkan 1 Syawal.
4. Kriteria MABIMS: Penentuan didasarkan pada kriteria baru MABIMS (Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura) yang mensyaratkan tinggi hilal minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat, yang tidak terpenuhi pada tanggal 19 Maret 2026.
5. Istikmal (Penyempurnaan): Karena hilal belum terlihat (di bawah kriteria), bulan Ramadhan 1447 H digenapkan menjadi 30 hari, sehingga 1 Syawal jatuh pada hari Sabtu.
Menyikapi adanya perbedaan perayaan Idul Fitri 1447 Hijriah Tahun 2026 ini, MUI Kabupaten Tanah Bumbu mengamati dan merasa bahwa situasi keberagaman di daerah ini tetap aman dan kondusif.
Sekretaris MUI Kabupaten Tanah Bumbu H Abdul Hamid, S.Ag, MM menyatakan, meskipun terdapat perbedaan dalam penentuan tanggal 1 Syawal antara komunitas keagamaan, masyarakat Tanah Bumbu tetap menjunjung tinggi nilai toleransi dan ukhwah islamiyah.
Menurutnya, dinamika ini dinilai tidak akan menggoyahkan stabilitas kerukunan dan silaturahmi yang telah lama terjalin di Bumi Bersujud.
“Perbedaan penetapan hari raya merupakan bagian dari ranah ijtihadi yang bersifat substansial dan wajar dalam tradisi Islam bahkan menjadi rahmat,” ujarnya.
Ia menekankan, bahwa perbedaan metode dalam penentuan idul fitri bukanlah bentuk ketidaktaatan, melainkan kekayaan perspektif dalam beragama yang selama ini telah disikapi secara bijak oleh warga Kabupaten Tanah Bumbu tanpa menimbulkan gesekan sosial.
“Jadi, kami berharap seluruh elemen masyarakat dapat saling menghargai satu sama lain. Dengan semangat persatuan ini, perayaan Idul Fitri di Kabupaten Tanah Bumbu diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat tali persaudaraan dan kedamaian antar umat beragama,” pungkas Hamid.
Penulis:Red
Editor:Hidayat
![]()



























